'Alakadarnya... Alakadarnya..? Alakadarnya?! Gak terima! Masa harus begini?! Muka mau di taruh di mana? Hah?!'
*Sebal. Gusar. Kusut. Sakit. Kerja. Nihil. Sedikit. Hah?*
'Apa? Ngomong yang jelas! Pitamku sedang membumbung ke langit! ......'
*Maaf. Terima saja. Sudah takdir. Hehehe...*
'Hah?! Apa? Takdir? Takdir?! Menghina kau? Aku tidak percaya dengan takdir! Hidup bisa di ubah bung! Takdir saja kau percaya, makan tuh takdir!'
*Memang bisa. Sudah diubah?*
'Sudah! Bosan aku mendengarnya. Kerjamu mengganggu saja. Tak ada kerjaan lain apa? Aku juga mau istirahat! Sudah banyak pekerjaan yang kulakukan tadi. Malahan, Semua itu hanya memakan hati saja! Hidup segan, mati pun tak mau.'
*Janganlah selalu berkelit. Kita sudah lama bersama. Aku ada dalam hatimu. Aku tahu apa yang kau pikirkan. Aku tahu apa yang akan kau lakukan. Lebih baik putarlah jam hidupmu 180 derajat. Kau juga tak mau kan kalau sesuatu yang buruk terjadi karena kemalasanmu?*
'Hah. Sudah, sudah. Aku sudah bosan mendengarmu. Kau cuma bisa apa? Omongan mu saja yang besar, namun yang di perlukan itu kerja! Praktek! HASILNYA! Bukan teori saja. Kalau teori juga setiap orang pasti dapat seratus.'
*Hehehe. Tak salah aku jadi hati orang sepertimu. Pintar juga kau berkata-kata. Namun, Bagaimana?*
'Apanya?'
*Bukti.*
'Bukti? Katamu biarkan saja yang dulu berlalu. Ya sudah! Yang sekarang biarkan saja. Aku tidak mau mengurusi apapun itu kehendakmu.'
*Hehehe. Aku akan tetap menanti...*
'Tunggu saja.'
*Aku akan menanti. Sampai tempurungmu diam dan air menjadi tenang. Selamat mencari jawabanmu...*
Tidak ada komentar:
Posting Komentar