Selasa, 08 Juni 2010

Sebilah Lidah Menerka...

Ketika awan melayang...
Dawai gitar melambai...
Lagukan suara nan indah asri...

Ketika hati diterawang...
Merah darah kobar semangat...
Merah hati tampakan suram...
Merah muka tampakan malu...

Sudah lama matahari tenggelam...
Sudah lama rembulan kembali...
Namun mulut tebarkan dusta...
Namun hati tebarkan tangis...

Saat jauh mendekat, dekat menjauh...
Saat mimpi mendekat, jauh bermimpi...
Saat lurus berpaling, mimpi pun mendekat di kala jauh...
Saat tawa di muka, tangis di dada...
Saat diam di hati, tiada bergeming wajah...

Tatkala semua itu bersatu, tatkala semua itu berpisah...
Dapatkah semua itu menyatu, dalam rindu yang tiada padu...

Semua laksana ombak...
Tiada berhenti di suatu tempat...
Tiada tenang saat bersuka...

Semua laksana debu...
Tiada henti terinjak-injak...
Tiada henti terbawa angin...

Tak bisakah semua hening...
Laksana tanah dengan langit...
Yang tiada berubah kala di pijak...

Ingin ku ucap selamat tinggal...
Namun ku ucap tuk jangan pergi...
Ku paksakan tuk ulurkan tangan...
Ku paksakan tuk lepaskan ganjaran...

Haruskah tinggalkan telur yang belum menetas?
Haruskah membakar rumah yang telah utuh?
Haruskah menghapus bersih semua papan hingga putih?
Haruskah kain putih ini kau tanggalkan semua?

Tidak ada komentar: