Sendirian, termenung
Diam tak berkabung
Menatap ke depan
Putih, kosong
Namun gelap
Ingin aku tidur
Namun mata kian terang
Pikiran kian jenuh
Ingin aku selesaikan
Semua perkara
Dengan semua air mata
Namun mata tegakkan diri
Tegarkan hati tak ayal bersedih
Ingin aku ingat
Semua yang sudah terjadi
Semua yang sudah terbengkalai
Semua yang indah
Semua yang sedu
Semua yang membuat aku...
Aku...
Ya, aku yang sekarang...
Mungkin khayalan jauh ke depan
Namun realita masih lebih jauh
Lebih dalam dan bermasalah
Lebih menuntut aku...
Bak sekumpulan debu
Benarkah aku
Tak tahu waktu berlalu
Namun tetapkan hanya satu
Mungkin terkaan ini menyingkap hati
Menyingkap hati yang goyah
Goyah diterka angin malam
Yang dingin menusuk qalbu
Aku hanya ingin
Bernafas...
Dengan lega...
Tiada lagi helangan...
Maupun makian...
Bahkan kekhawatiran...
Yang beratkan nafasku...
Namun semua itu semu
Semua itu fana
Hanya omong dari mulut
Bukan dari hati
Karena aku hanya bisa meminjam hati
Tak ada yang abadi
Walau aku tak tahu keabadian
Walau aku tak mau abadi itu menyelimutiku
Walau aku tak bisa mengakui keabadian
Adakah yang abadi
Aku hanyalah gumpalan perbuatan
Jahat baik, benar salah
Yang melakukan sesuai kehendaknya
Walau sebenarnya aku mau
Keabadian itu menjadi nyata
Melingkupi, menghidupi
Mengobati, menghampiri
Dan mendiami...
Walau semua terasa semu
Aku tetap duduk
Terjerumus dalam pikiran semu
Bernafas dengan berat
Sambil menulis
Dengan kepala yang menunduk
Hati yang terus menyalak
Dan teriakan yang sunyi
Hanya terdengar "...maaf..."
Aku tak dapat berkata
Aku tak dapat menyangkal
Aku tak dapat mengungkapkan
Hanya satu yang terucap "...maaf..."
Haruskah semua ini aku tulis?
Sampai habis penakah semua ini akan berakhir?
Atau sampai kapankah...
...maaf...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar