Jumat, 09 Desember 2011

Mata

Aku kembali lagi ke pinggiran kota ini. Ya. Kota yang indah, masyarakatnya ramah, dan aku senang dengan semua itu. Semua terlihat asri dan sangat membuat moodku kembali rileks.

Suatu hari, seorang teman menyuruhku untuk berlibur ke pusat dari kota itu. Ya, meskipun aku lebih senang di pinggirannya yang masih belum terglobalisasi, jujur aku belum pernah ke pusat kota ini. Jadi ajakan temanku ini aku indahkan dan besoknya ku berkemas untuk perjalanan pulang hari berkeliling tengah kota.

Ya. Memang. Pusat kota ini terbilang hangat jika dibandingkan dengan panasnya Jakarta. Namun suasana di sini juga masih terlihat agak familiar. Mungkin karena pinggiran kota yang penuh dengan orang yang hangat, orang di pusatnya juga hangat. Itu menurutku. Dan, memang. Agak hangat. Saat aku membeli pisang di pasar di kota itu, orang-orangnya ramah-ramah. Dengan bahasa sunda mereka yang masih kental dengan "teh"nya, mereka bercanda dengan temannya yang berjualan buah di sebelahnya. Mereka seperti keluarga. Ya. Saling membantu, saling memperhatikan. Dan mulai saat itu, aku mau mencoba menetap beberapa hari di kota ini. Pusat kota ini.

Beberapa hari sejak aku menetap, semua terlihat asri dan biasa saja bagiku. Namun, pada suatu hari, seorang anak membuatku tertarik.

Saat aku berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu, aku berjalan tepat di belakang seorang anak yang tingginya mungkin sepantaran denganku. Ya, mungkin bisa dikatakan remaja. Dia berjalan dengan cepat, walau sebenarnya itu hanya langkahnya yang besar-besar. Dia seperti memakai baju serangam sekolah putih dan bercelana panjang abu-abu. Lalu aku pun berjalan saja mengikuti naluriku. Tak ku sadari, aku mengikuti remaja itu sampai masuk ke dalam gang. Sepi? Mungkin tidak. Ada beberapa orang di situ. Diam. Ya, tidak juga. Ada yang sedang membeli baso, ada yang sedang berjalan dengan temannya dan lain-lain.

Namun, sesuatu yang menarik perhatianku muncul. Saat remaja itu melintasi tikungan di gang itu, aku melihat seorang anak kecil yang sedang bermain dengan riang dan asyiknya itu melihat dengan pandangan yang agak kosong dan menghentikan permainannya sebentar. Lalu anak itu pun berlari masuk ke dalam rumah. Tidak puas dengan kejadian itu, aku pun terus mengikuti remaja itu.

Kejadian kedua yang membuatku makin penasaran juga terjadi setelah aku melihat remaja itu di tikungan berikutnya. Seekor kucing berwarna cokelat belang-belang yang memandang remaja itu. Aku pun melihat remaja itu sepertinya melihat kucing itu. Belum sampai dekat si remaja dengan si kucing, kucing itu memalingkan diri dan lari ke arah yang berlawanan. Sebelum kucing itu lari, aku sempat melihat suatu cahaya pantulan dari kucing itu. Ya, mungkin sangat kecil, namun itu terlihat bersinar, sekali, lalu kucing itu pergi. Mungkin remaja itu mengenakan kacamata.

Aku pun terus mengikuti dia. Dia pun sepertinya tidak mengetahui keberadaanku dibelakangnya, dan terus saja memandang lurus kedepan tanpa memperhatikan hal yang lain. Walaupun orang lain kadang melihat dirinya, dia masih saja pergi dengan dingin sampai keluar gang.

Aku cepat-cepat menyusul sampai di belakang remaja itu. Namun kali ini berbeda. Dia sepertinya tidak nyaman dengan sesuatu. Dia menengok ke kanan dan ke kiri. Dan sekarang aku bisa melihat sedikit dari matanya yang agak bingung. Bingung? Hal yang sangat berbeda dari persepsiku. Aku yang mengira bahwa dia memiliki mata yang berbeda ternyata salah. Namun sesuatu yang janggal ini membuatku ingin melihatnya lebih dekat.

Dia menyebrang jalan dan aku ikuti. Sekarang kami berada di satu trotoar. Udaranya hangat, dan agak panas. Namun aku merasakan sesuatu yang dingin. Sesuatu mengatakan padaku untuk berhenti dan menyudahi ini, namun aku tak mendengarnya. Dan setelah aku berada di belakangnya lagi, terasa suatu rasa yang dingin. Aku dekati. Dekati. Dan tiba-tiba dia menoleh ke belakang. Aku pun melihat langsung matanya di balik kacamatanya. Tiba-tiba aku terdiam. Dia pun kembali berjalan setelah menengok ke belakang sebentar.

Aku....diam. Bulu kudukku tiba-tiba berdiri. Aku merasa seperti diancam dengan sebilah pisau yang memintaku untuk menjauh darinya. Suatu mata yang menusuk, jauh sampai ke dalam. Sebuah perasaan dingin yang belum pernah aku rasakan. Tajamnya.... Dia hanya melihat dengan pikiran yang sepertinya penuh dengan es. Penuh dengan.... kedinginan...

Terdiam.... Membeku.... Aku di sana... Beberapa detik kemudian, aku kembali ke alam sadarku dan remaja itu sudah menghilang. Aku hanya terdiam di tengah-tengah riuhnya orang-orang yang berlalu-lalang di atas trotoar itu. Dia... Diangin. Sebuah perasaan yang tersembunyi, jauh dari dalamnya. Mungkin itu yang bisa aku nilai.

Esoknya, aku berencana untuk melihat-lihat kota ini lagi. Namun, aku kembali teringat dengan pengalaman yang kemarin. Apakah yang sebenarnya terjadi? Mengapa ada saja orang yang bermata seperti itu? Tajam namun tudak tahu diarahkan paa siapa? Apakah ada yang dipermasalahkan olehnya? Yang soal-soal yang tak terjawab yang berputar di pikiranku. Semoga aku bisa mengetahuinya.... Nanti.....

Tidak ada komentar: