Selasa, 27 April 2010

Saat Semua Terlintas Kembali...

Siang itu, hari terasa gersang. Namun seberkas cahaya melintasi mataku. Namun, dibalik cahaya pasti ada kegelapan... 
Hari itu semua tertampak biasa saja. Tak ada sesuatu halpun yang besar dan cukup mengesankan untuk diukir dalam buku sejarahku.  Semua bagai api yang dibakar, air yang mengalir, hidup yang datar. Semua berlangsung seperti apa adanya. Tanpa ku sadari, diriku ini sedang menggumam dalam benak yang sudah terlampau kosong karena suatu hal yang tak pasti.

Sekolah pun yang biasanya merupakan tempat kenangan-kenangan gila itu muncul belum menempelkan kenangan itu dalam diriku.Ya, semua sesuai dengan jalan tol. Lurus, kosong, dan hanya bisa terlihat aspal di jalannya. Namun, pikiranku yang semula kosong langsung terarah kepada seberkas cahaya terik yang ada di depan mataku.

Adalah seorang bocah dengan wajah kusam yang mengenakan kaus bola berwarna biru. Dia melintas, tepat di sampingku. Diriku merasa seakan ada yang aneh pada bocah itu. Seakan terlintas sesuatu dalam benak. Sesuatu...

Ya, itu hanya siang hari yang terik dan gersang. Mungkin pikiranku sedang kacau sampai-sampai semua ini terasa aneh bagiku. Namun, yang satu ini bisa di bilang kebetulan. Peristiwa ini bermula beberapa hari setelah diriku melintasi bocah itu.

Suatu lagu yang mengubah cara berpikirku. Benarkah? Mungkin tidak semuanya, tapi cukup berarti. Sebuah lagu. Mungkin itu hanya rangkaian kata-kata yang dirangkum menjadi satu, namun bagiku semua itu bermakna. Makna yang sedikit menyinggung hati. Diriku adalah orang yang penakut. Orang yang hanya bisa di belakang layar atau orang yang berperan sebagai orang lain. Supporter dalam doa. Hanya topeng dan tidak menunjukan wajah asli. Dan lagu itu membuatku seakan dijatuhkan.

Memang aku belum pernah mengutarakan kebenaran karena itu adalah hal yang terlihat mudah namun sulit bagiku. Walaupun pikiranku selalu menyuruhku untuk semangat karena hanya bicara saja, tapi raga enggan melakukannya. Hanya bisa diam tanpa gerak sedikitpun. Hanya bisa bermain rubik dalam kolong meja untuk mengalihkan pikiranku.

Memang dibalik terang pasti ada gelap. Namun diriku seakan terkurung dalam kelabunya kegelapan hidup. Hanya bisa bermimpi, hanya bisa berharap. Dapatkah berubah?

Tidak ada komentar: