Senin, 26 Juli 2010

Monday 26-07-2010 20:30 :: Gemuruh Pagi ::

Senin. Hari upacara. Hari sibuk. Hari kerja. Hari bingung. Hari pusing. Hari ujian. Hari pekerjaan. Hari neraka.

Semua terasa begitu saja masuk dan keluar menghempas jati ragaku ini. Namun memang, tak bisa kupungkiri bahwa hari ini memang sepi dan hanya membuat pusing di saat rembulan tunjukan sinarnya saja. Bukan oleh sebab apapun, tapi sebuah tugas. Atau lebih tepatnya tugas yang dikejar-kejar kerjanya sehingga aku terpaksa SKJ. Namun, namanya tugas tak akan menyurutkan semangatku untuk mengutarakan tulisan ini...

Pagi. Dingin. Angin yang halus laksana deburan ombak hampiri tanganku. Mengelus kulitku bak kucing di pangkuan majikan. Terkantuk-kantuklah aku. Sendiri. Bangun. Dengan mata berkedip-kedip seperti lampu 10 watt yang sudah remang-remang. Namun saat bunyi alarm berbunyi, mata pun membelalak seperti senter. Teringat akan hari, melompatlah aku ke kayu rumahku, turuni kasurku yang penuh kesenangan dunia mimpi. Mimpi hanya menjadi abu, dan abu takkan bisa di makan. Jadi, tinggalkan saja semua yang sudah berlalu.

Semua sudah siap sedia. Pagi pun sudah bangun dari lelapnya. Bagitu pun aku yang tak mau kalah langsung pergi menuju tujuan dan tanpa basa-basi meminta uang jajan untuk makan di sekolah. Sampai di sekolah. Sepi. Kosong. Nihil. Eh, tidak, tidak. Ada dia, Toto! Ya, baguslah. aku bisa bercengkrama sambil bertukar pikiran walau hanya untuk sesaat. Namun sesaat memang tak terasa. Perginya waktu tak dapat di tarik kembali. Akhirnya semua sudah masuk, dan kembali seperti dulu. Duduk. Diam. Mengantuk. Tidur setengah melek.

Benar saja. Belum satu jam berlalu, kantukku mulai menyerang lagi. Kepala mulai mengangguk-angguk seperti orang yang sedang mabuk. Namun ku paksakan untuk menyimak apa yang terdengar, membaca apa saja yang bisa di baca, dan mencorat-coret kertas buram yang ada. Untung saja satu lembar kertas buram hasil coretan pada minggu yang lalu membuat kepalaku sedikit tak jenuh. Walau pun sedikit, itu masih berarti dari pada tidak sama sekali.

Hari-hari berjalan lambat. Pendingin ruangan benar-benar menjalankan tuugasnya dengan sangat baik, yaitu sebagai pembius dan membuat pelajaran fisika seperti dongeng waktu malam. Tertunduklah kepalaku ini yang semakin ringan ditindih kantuk. Untung saja kemarin sempat membaca satu halaman yang penuh dengan rumus mematikan itu. Jadi, bergunalah penjelasan itu sebagai bumbu-bumbu penambah lelap kantukku. Namun tetap, pelajaran itu jelas, namun tidak secerah lampu neon di kelasku. Aku pun seperti para tikus-tikus kantor yang mencuri waktu di kantor unntuk tidur. Saat bos keluar, kepala terbanting ke meja. Walau tak terdengar suara dengkuran atau apapun itu, terasa nyenyak pejaman mata itu. Sebentar tapi berarti.

Bel tanda kemerdekaan berbunyi. Bel tanda lapar pun ikut berbunyi. saatnya makan. Semua berhamburan keluar, dengan sopan. Tidak seperti orang yang sedang rebutan minyak atau qurban. Ya. Aku tertinggal sendiri di kelas. Membuka kotak makananku. Dan mulai melahap sedikit demi sedikit. Tidak tergesa-gesa. Yuri, temanku. Duduk di bangku paling depan, walau tidak sebarisan denganku, dia meminta tolong menjaga kotak makanannya. Ya, sudahlah. Hanya melihat saja sudah masuk dalam kategori menjaga. Ingatanku jadi teringat akan trauma PS2 di jalan A.Yani itu. Pencurian keji dari pencuri tak berperikemanusiaan dan berperikeadilan, serta pergerakan di dalam hukum pun seharusnya bertindak! Memang hanya milikku yang di curi tapi kerugian yang kutanggung. Ah, sudahlah... Jangan di ungkit-ungkit lagi. Syukur sudah ada komputer. Mindsetku harus di ubah. Sekarang. Lanjut, ya, aku kembali menyantap sarapan pagiku yang tidak terlalu dingin dan tidak terlalu panas. Sampai bel tanda algojo akan datang, tiada yang menarik. Semua berlangsung seperti biasa. Diam. Sepi. Satu "geng" yang sedang berbincang-bincang tentang permainan yang menghipnotis mereka. Dan... Ya, begitulah. Semua kosong. Nihil. Aku hanya bisa diam, mondar-mandir di kelas bagian belakang, sampai akhirnya kembali ke pojok ruangan kelas. Jauh dari pintu.

Sampai di akhir hari belajar. Semua berjalan biasa. Hanya mobil yang berwarna cokelat muda yang lewat di depan SMPK. Dan mungkin, segalanya berlangsung seperti biasanya. Bola mata yang terus mengitari ruangan kelas pun sudah menjadi kebiasaan yang membuat bingung diri sendiri. Hanya pekerjaan rumah yang membuat pusing sampai akhirnya selesai juga, walau pun kurang memuaskan, tapi... Ya, tak apalah...

Yang penting hari sudah berlalu, biarlah aku berfikir lagi untuk merubah mindsetku yang terlalu aneh ini...

Coz' this freak want to break the "Freak" from its name...

Tidak ada komentar: