Selasa. Lagi. Terbangun dari mimpi. Dari malam yang dingin. Menuju pagi yang kembali dinginkan suasana. Terasa dingin. Ya. semuanya. Kulitku, kasurku, otakku, sampai hatiku, terasa dingin. Bangun pun di selimuti kedinginan jiwa dan raga. Aktifitas ppagi hari pun berlangsung lumrah. Terasa biasa, namun dingin. Memang setiap hari adalah es bagiku, namun hari ini terasa lebih dingin. Kaku.
Kembali ke sekolah di pagi hari yang tak terlalu pagi dan tak sepagi pagi yang sebelumnya. Dingin masih terasa. Merujuk ke dalam tulang. Tapi, biarlah dingin merasuk. Asal jangan mengubah lajur pikiran yang sedang tak beriak ini. Semua berlangsung...dingin. Di awali oleh nuansa dingin yang tak begitu menampakan keceriaan, namun di selingi oleh 45 menit kesenangan, atau paling tidak ada beberapa senyum di wajah mereka. Tapi itu semua berlalu saat bel istirahat berdering keras. Hujan pun menambah semarak kedinginanku. Diam di kelas, sendiri. Lagi. Hanya bisa memandangi keseluruhan kelas yang diisi oleh kehampaan kursi-kursi. Hanya bisa memandangi orang-orang yang pergi meninggalkan kelas, mondar-mandir di dalam kelas, dan akhirnya kelas pun kosong dan hanya diisi oleh aku seorang. Hanya ditemani rempukan air hujan dan riuh ricuhnya suara gemuruh mereka yang mengisi telingaku ini. Sedangkan nasi goreng yang sudah dingin terus datang ke dalam mulutku.
Semua terasa semakin dingin. Pelajaran selanjutnya mungkin ampang di cerna namun cukup membosankan. Beberapa pelajaran lainnya sangat sulit untuk di cerna, membuat sakit hati, dan memusingkan dan tentu saja membuat otak dingin ini terpaksa berputar lebih kencang. Namun betapa kencangnya putaran ini, dingin ini tetap tidur dalam kemelud otakku. Ya. Diam kembali menghampiri, dan dingin semakin melingkupiku.
Terserahlah apa kata orang. Aku tetaplah aku. Seorang Devlin Bataric yang berkaca mata, dengan tinggi lebih dari 170cm ,dan yang sedang mengetik di blogger pada jam yang tertera di judul. Dengan baju berwarna hitam dan berlengan oranye, dan celana batik pemberian ibu Ira yang sudah meninggalkan anak-anak didiknya di Sukabumi, sendiri ... :( Ah, sudahlah. Yang berlalu sudah berlalu, yang diperlukan adalah sekarang. Sekarang yang aku perlukan adalah merubah pola pikirku! Aku tidak mau hidup dalam kabut! Aku tidak mau karena aku pernah merasakan sendiri. Kabut. Putih. Dingin. Hanya membuat aku merinding. Mengingat diriku. Bagai... Terbang. Hanya dapat ku rasakan perasaan-perasaan kelabu di dalam diriku pada waktu itu. Tepatnya, pada hari itu juga. Pulang sekolah. Putih, tebal, namun dingin. Diam. Hanya itu yang teringat dalam benak. Hanya duduk di ujung lantai dekat lapangan sambil menatap lurus ke depan. Ke arah kabut itu.
Lirih. Teringat juga judul lagu yang dinyanyikan almarhum Crisye. Tersirat beberapa kepadihan yang entah dari mana asalnya aku rasakan. Semuanya terasa putih. Beberapa bagian dalam hatiku berwarna kelabu. Dan sebagian lagi, hitam. Hah... Putih. Kelabu. Hitam. tiga warna yang melambangkan kepribadian seseorang. Terkadang memang mengkoreksi diri membuat wetiga warna bisa menunjukan kadarnya masing-masing. Aku? Masih banyak hitam dan kelabu dalam sifat, kelakuan, perilaku, dan perbuatanku. Kepada adik sendiri saja masih kasar. Aduh, sungguh memalukan. Dan mungkin mati lampu saat ingin mengerjakan tugas kelompok yang membuat nafsu amarah turun dari otak ke mulut.
Ya, sudahlah...
Mungkin semua akan berlangsung sesuai rekaman Sang Khalik...
Aku hanya bisa menjalaninya...
Tanpa tahu...
Jalan kerikil di hari depan...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar