Jumat, 30 Juli 2010

Thursday 29-07-2010 09:47 :: Rimba Batin ::

Terlewat satu hari. Terlewat satu mimpi dengan akhir yang aneh. Terlewat suatu kedinginan. Kemarin. Rabu. Siang yang memekakan otak. Dua puluh soal matematika. Hanya mampu mengerjakan beberapa soal saja. Lebih dari sepuluh pun seharusnya sudah bangga. Sulit. Otakku di kuras habis-habisan kemarin. Ya. Namun itu kemarin. Bukan hari ini.

Hari ini rakyat kelas IPA dan IPS bersatu padu seperti dulu. Ya, bernostal-gila dengan semua teman-temang yang sudah sedikit gila. Namun, di pandang dari sisi mana pun, tetap saja hari ini aku merasa senang. Tak seperti dua hari yang lalu. Walau hari ini mandarin mengacaukan pikiran, namun ku kira hasil belajarku akan mengubahnya. Ya, aku yakin. Dan aku akan berteriak jika nilai ujian mandarin yang pertama mendapat nilai merah.

Hari ini pelajaran berkisar inggris, olah raga, mandarin, kewarganegaraan, dan musik. Salah satu pelajaran memang menyehatkan, ada juga yang menakutkan, ada yang membosankan, ada yang biasa-biasa saja, dan ada yang butuh pengorbanan. Pengorbanan yang terjadi akibat pesan yang sembrono pada hari rabu di facebook, kepada guru dan itu memang membuat aku bingung pada awalnya. Namun lega dan santai pada akhirnya. Aahh... Ternyata tidak sembrono itu salah dan membuat buruk seseorang.

Kembali ke kronologis cerita. Pelajaran pertama aku masih biasa-biasa saja. Dan sebelum bel berbunyi, aku menanyakan apa yang terjadi kemarin dengan teman-temanku yang mengikuti lomba debat berbahasa inggris. Aku sempat terpilih namun untunglah aku di "eksekusi". Jadi hanya empat temanku yang ikut lomba dan beberapa pendukungnya yang mau ikut menonton. Walau pun mungkin bukan hanya ingin menonton saja, tapi mungkin saja ingin menghindar dari sesuatu.Ah, biarlah. Waktu hanya berputar sekali. Ini bukan roda.

Ya, selanjutnya pelajaran yang menyehatkan. Olah raga. Saat itu aku masih dalam kondisi yang "siap melakukan apapun!" Masih bisa bermain basket bersama teman-teman lainnya, dan masih bisa bercanda. Materi pun lumayan ringan. Hanya roll depan. Lalu bermain basket sampai lupa diri akan test yang menunggu di akhir pelajaran ini.Untungnya "beberapa massa" memilih untuk belajar selama satu jam terlebih dahulu dan ulangan di jam selanjutnya. Untungnya lagi, dia mau menerimanya. Ulangan berjalan lancar. Lalu di lanjutkan dengan belajar mandarin. Lagi. Karena masih tersisa beberapa menit tentunya. Numun Bentakan yang di lancarkan pada orang yang tak pasti membuat melek mataku yang sudah merem melek. Walau sebentar namun cukup berarti dan membuat semua orang diam dan membaca secara seksama. Takut jatuh korban lagi. Usai mandarin, semua warga kelas beristirahat. Ya, benar-benar beristirahat dari mandarin. Bentakan "lao tse" masih menjadi buah bibir semua warga kelas. Sampai ke meja bundar yang ada di sebelah lapangan sekolah.

Selesai istirahat. Semua kembali ke kelas. Pelajaran Pkn. Ah... Lumayan ringan, namun sedikit membosankan. Jujur, aku bosan mendengarnya. Tapi hanya untuk kali ini. Ya, politik memang sulit untuk di cerna. Politik memang jahat. Poltik Indonesia membutuhkan paling tidak sepertiga dari anggota MPR yang merupakan tikus-tikus kantor. Ya, hanya itu yang aku dapat dari budaya politik orang-orang Indonesia. Heh, Aneh.

Saatnya untuk pengorbanan. Pelajaran musik. Menyenangkan, mengasyikan, namun butuh pengorbanan. Kesalahan pertama adalah pada hari rabu kemarin, aku mengirim pesan tanpa pikir panjang, kepada guru di facebook. Kedua, aku kurang latihan karena ulangan yang mendesakku. Namun kesalahan tidak selamanya membuahkan keburukan. Pertama aku bisa lepas dari tugas itu. Kedua, aku bisa mengerjakan semua tugas di pelajaran lain yang belum selesai. Namun tugas itu juga membawa tugas yang baru. Namun cukup mudah. Hanya mengumpulkan semua lagu yang akan di nyanyikan oleh semua "peserta". Padahal ini hanya menyanyikan dua lagu jazz. Untungnya aku memilih lagu yang mudah, menurutku. Namun menurut guru musikku, Pak Andre, Musik yang dinyanyikan Indra Lesmana, Mimpi dan rumah ketujuh adalah musik yang sulit. Sulit di sini maksudnya sulit memainkan melodinya, dan aku akui kebenarannya. Saat aku bernyayi, pak Andre bisa mendampingiku, namun dengan sedikit sulit. Jadi, lagu itu tidak terdengar baik, Menurutku. Dan di tambah lagi suara fals yang di buat oleh kerongkonganku, hancurlah sudah musik itu.

Bingung bukan kepalang, Pertama kali aku hanya menyanyikan lagu buatan Nat King Cole dengan judul yang sudah pasti kalian sudah tahu, LOVE. Liriknya mudah-mudah saja, "L is for the way you look at me. O is for the only one I see. V is very very, extra-ordinary. E is even more than anyone that you adore...."
Lalu kelanjutannya pun mudah. Hanya empat kalimat disetiap baitnya, nadanya mudah, sudah di kenal, lagunya terkesan sudah lama. Namun, aku bingung. Kenapa banyak sorakan yang meluncur. Aku pun hanya bisa menatap tuts piano tersebut dan jari-jari Bapak Andre Tarore itu menari. Sempat juga aku gugup mengatakan kata dari kalimat itu dan lupa. Namun tetap saja mereka menyoraki. Adakah yang baik dariku?

Ku katakan yang sejujurnya. Memang aku senang mendapat sorakan itu, namun aku bingung. Aku seperti hidup bersama empat belas teman lainnya di dalam hutan rimba. Aku seperti orang yang mengcungkan diri untuk terjun ke dalam lubang penuh duri dan tak terlihat dasarnya. Aku melompat, namun aku selamat. Meski beberapa luka bersarang di tubuhku, aku tetap di jadikan contoh. Memang aku suka dengan lagu jazz, tapi... Aku seperti... Aneh, tak pernah terasa seperti ini. Lagu pertama mungkin berlangsung lancar, namun untuk lagu kedua, pak Andre membutuhkan HPku. Terus terang, saat berjalan untuk mengambil handphone, ada perasaan termotivasi, namun, di dalam situ juga terdapat kata batin yang mengatakan bahwa aku ini tidak pantas. Kepesimisan diriku ini terus menghujam batin ini. Umpamakan bahwa hati ini rimba, Pesimis adalah pohon-pohon menjulang tinggi dan motivasi hanya seperti semak-semak yang ada di bawahnya. Tak lepas dari situ juga rasa malu ada di kupingku. Buktinya, kupingku terasa panas saat aku selesai menyanyi lagu pertama dan kedua. Seperti terpanggang. Entah aku yang malu atau seseorang atau beberapa orang sedang membicarakanku.

Ahh, tolonglah...
Aku bingung mau apa sekarang...
Terkurung dalam kepesimisan tanpa dasar...
Namun, mungkin aku bisa menambah motivasi dan mungkin menurunkan persen kepesimisan...
Hanya saja, perlu waktu...

Tidak ada komentar: