Jumat, 06 Agustus 2010

Friday 06-08-2010 19:26 :: Jembatan Kenyataan dan Mimpi ::

Hari ini. Aku lupakan semua. Hanya ingin lupakan semua. Menunggu semua. Hanya untuk aku. Dan hanya untuk alasan tersendiri aku tinggalkan memori yang baru terjadi ini. Aku inin berkhayal. Membuka satu buku hitam yang kusam. Penuh khayalan dan omong kosongku yang terpendam di dalamnya. Tak pernah terungkap. Hanya terarsip dalam rak baju dan terabaikan. Baru aku membukanya malam ini. Sebelum aku membuka komputer ini. Di mulai dari 26 Februari 2010. Ya, saat itu aku masih ingat. Hari-hari mudaku yang belum lama terjadi. Berpapasan, baik dengan ketiga preman, ataupun engannya di hujan yang dingin. Aku masih ingat penampilannya. Dengan payung dan jaket putih. Kalau aku tidak salah, itu pakaiannya saat itu. Pernah juga aku salah lihat. Padahal Cianjur dan Sukabumi berbeda. Tapi dia terasa ada di situ. Hanya sebuah halusinasi. Hah, dulu. Ya, pertama kali aku mulai menulis buku hitam itu. Saat aku selesai membaca buku "Botchan" dari halaman yang sudah aku tandai, 129. Lalu aku mulai menulis tentang perjalanan pendekku selama kurang lebih satu minggu. Mengoceh tentang polusi, lapak-lapak yang digusur oleh pak polisi, obsesiku, dan "terangku". Aku ingat aku menulis hanya untuk sekedar... Melimpahkan isi hati? Mungkin. Tapi, lepas dari beberapa bab yang aku tulis, beberapa di antaranya menyiratkan isi hati, pikiran, opini, dan aspirasiku. Munkin tak banyak, tapi tersimpan juga kode di dalamnya.

Ingin aku melakukannya, namun aku tak sanggup. Aku membatu. Sama seperti di kediamanku, pojok ruang kelas. Aku kedinginan. Membeku. Terserah aku mau tidur atau apapun juga. Tempat yang strategis, namun terasingkan. Tak ada yang dekat, namun jika kelas IPS datang, semua kursi penuh dan aku mendapatkan teman bicara yang lumayan baik. Asyer. Yah, beberapa pemikiranku biasanya berakar dari diamnya aku di pojok ruangan atau terabaikannya diriku yang membuat aku bisa memperhatikan dan berkonsentrasi dengan lebih dalam. Walaupun aku jberpikir tidak sekeras Aristoteles, Plato, atau beberapa pemikir internasional lainnya, tapi paling tidak aku bisa mendapatkan apa yang diajarkan.

Terang saja. Sekarang ini aku menulis karena merasa sepi. Tak ada yang mau aku kerjakan. Semua sepertinya membosankan. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan. Jadi, mengetik saja yang bisa dan mau aku lakukan. Hah. Semua tak seperti yang dulu. Mungkin Dian Piesesha yang menyanyikan lagu "Tak Ingin Sendiri" menyatakan bahwa dia masih seperti yang dulu, tapi Devlin Bataric menyatakan bahwa aku tidak seperti yang dulu. Adakah aku masih seperti yang dulu? Aku sudah berubah, sepertinya. Aku sudah berubah berkali-kali. Dari diriku yang selalu mengobsesikan diriku kepada video making, video editing, rubik solving, card playing, sampai sekarang. Blogging. Tapi ada yang berbeda dari dulu dan sekarang. Menulis. Aku merasa dulu aku jarang menulis, tapi, aku merasa aku harus menulis untuk melimpahakn segala isi hatiku, duka lara, dan suka nestapaku ini. dan untuk kedua kalinya aku mengatakan bahwa aku sudah berubah. Akankah aku menyatakan diriku ini berubah lagi? Pasti, suatu saat nanti aku menyatakan itu. Namun tak tahu kapan aku akan menyatakan itu. Jadi, dari itu-itu yang membuat hatiku selalu itu-itu saja, terpikir selalu itu. Itu, itu dan itu. Sungguh membuat candu. Oh, Tuhan... Apakah sukma ini dapat berpindah haluan? Aku pun mungkin akan sependapat dengan Syaharani dengan lagunya, "Tersiksa Lagi" yang mengatakan bahwa dimana lagi aku dapat menemukanmu? Di mana lagi aku harus mencari?

Hah, aku pusing tujuh keliling. Mangapa sekarnag bisa begini? Mengapa harus tersiksa lagi? Mungkin akan sekejap saja, tapi... Ya biarlah. Nanti juga akan berpisah. Walau pasti sulit untuk melepaskannya, tapi... Waktu akan memisahkan. Bunga tak akan selamanya dihinggapi sang kumbang. Sehingga sang bunga harus di hinggapi oleh kumbang lainnya. Tak tahu apakah kumbang itu kembali lagi dan dapat hinggap atau mungkin hanya membuatnya berputar-putar saja di atas mahkota bunga itu.

Hah...
Semua ini seperti mimpi...
Tak bisa aku bedakan...
Mimpi yang sukar di terima...
Atau kenyataan yang lebih aneh dari mimpiku...

Dapatkan berlabuh didaratan tak berpeluh?
Dapatkah mencandu dalam dirimu?
Bisakah menghampiri untuk mengakhiri?
Hanya waktu, pikiran, Kenyataan, dan banyaknya mahkota bunga yang dapat menentukan mimpi...

Ya, mimpiku...

Tidak ada komentar: