Baru kali ini aku mendapat sesuatu yang sangat, amat, membingungkan sekaligus menyenangkan. Namun aku tak tahu kelanjutan dari malamnya. Senangkah? Tidakkah? Atau rata seperti biasa? :| Hanya handphone, otak, dan tv yang dapat mmembuat segalanya berubah. Oh, ya. Tak ketinggalan, hari ini aku memiliki tugas yang sungguh, amat, banyak, sekali. Tapi, untunglah ada kontak dengan barang elektronik yang satu ini. Ya, komputer. Hehe... :P
Ya, biar di jelaskan. Hari ini aku dinobatkan menjadi ketua yang membuat tanggung jawabku semakin besar, selain presentasi Olah raga yang diserahkan kepadaku untuk di proses dan kedua ulangan mematikan, yaitu Pkn dan Mandarin. (Owh, man... Mandarin... T_T) Tidak lupa juga tugas musik yang menguji keberanian semuanya. Sungguh memalukan, menirukan "Keong Racun" memang absolutly, very very disgusting! Benar-benar "homo disgustingus" kalau aku harus memperagakannya. Tapi kalau sudah menyangkut popularitas, uang, dan segala rupa yang seperti itu, aku baru mau... :P
Ya, tapi siang itu benar-benar. Aneh bin ajaib. Permainan yang mengasah konsentrasi! Kau harus menulis 1-30 selagi satu temanmu mengganggumu dengan mengatakan bilangan-bilangan (bulat dan cacah) dan kamu harus menjawabnya dengan satu bilangan setelahnya. Mereka hanya mengatakan "Satu!" lalu temannya menjawab "Dua." sambil menulis angka satu, dan seterusnya. Setelah aku tahu bahwa angka yang disebutkan tidak usah berurutan. Terbesit satu otak miring yang membuat gila. Awalnya biasa saja. Aku dan Asyer, sedang bermain demikian. Aku yang mengganggu (karena otakku berpikir dengan konsentrasi yang tidak sebesar dia :P) dan dia yang menuliskan 1-30.
"Satu!"
"Dua." Sahutnya sambil menulis angka satu.
"Tiga!"
"Empat."
"Lima!"
"Enam."
Keadaan yang kuno itu berakhir dengan tercapainya angka tiga dan nol di akhir permainan. Namun saat aku mendengarkan dan melihat langsung perjuangan salah satu temanku (Carlos) yang diganggu oleh Ronny. Beginilah kira-kira dialognya...
"Dua tujuh!" Teriak Ronny.
"Dua delapan!" Teriak Carlos
"Tujuh tiga!"
"Ehh, Tujuh empat!"
"Tiga puluh!"
"Tiga satu!"
Dan bilangan-bilangan acak itupun terlontarkan begitu saja di depan kuping Carlos (Yang sepertinya sudah panas karena diteriaki). Aku pun mulai berpikir untuk memiringkan situasi.
"Syer! Lagi yu!" Kataku dengan penuh semangat.
"Hayu jah!" dengan nada sedikit menantang.
"Yuk, satu, dua, tiga! Satu!"
"Dua!"
"Tiga!"
"Empat!"
"Sembilan!"
"Se... Loh, bukannya harus berurutan ya?" Tanyanya bingung.
"Boleh, wong si Ronny aja begitu."
"Oh, ya udah."
"Tujuh!"
"Delapan!"
"Dua puluh!"
"Ehh... Dua satu!"
"Akar sembilan!"
"Ehh..."
Dia berpikir sebentar dan akhirnya mengatakan, "Hah? Koq pake akar!?"
Tertawalah dia terbahak-bahak. Kami yang tertawa. Dimulai dengan hanya akar. Lalu mulai terlibatlah minus, lalu perkalian, penjumlahan sampai akhirnya terciptalah suatu permainan matematika yang paling aneh di sini. Sampai-sampai perutku sakit karena tertawa terlalu sering pada saat itu. Aduh, memang hari yang aneh. Lucu, namun sekarang apa lagi yang akan terjadi yaa...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar