"Memang bagaimana itu? Sudah bagus ada plusnya yaitu dibidang teater, sekarang mau di ganti begitu saja? Memang ada apa? Pakai guru yang ada saja! Biar saja otodidak, yang penting plusnya masih terlihat! Bukan menjadi tidak terlihat begitu. Kalau begitu lebih tidak usah membuat teater dari awal saja! Sekarang bagaimana ini anak-anak teaternya? Di acuhkan saja?"Ya, kurang lebih seperti itu lah ocehannya. Aku pun semakin bersemangat dari kejatuhan mental saat kemarin. Karena itu aku kembali semangat dalam hatiku. Namun wajahku tetap di ratakan untuk menyembunyikan segala kesenanganku, seperti biasa. Semangat sepertinya kembali merasuki diriku di saat ini. Aku pergi ke sekolah, walau dengan pedih di muka - yang di pedih-pedihkan - sehingga terlihat suram. Ya, ini merupakan salah satu dampak dari dibekukannya teater. Membuat aku semakin mencari cara bagaimana caranya untuk membebaskan diri dan teater ini dari belenggu yang selalu menjerat kami ini.
Pagi hari. Setelah sampai di sekolah dalam keadaan yang biasa, aku mencari tempat untuk tertawa dan bercanda. Tak berselang lama, bel sudah di bunyikan. Ada beberapa hal yang membuat panas telingaku lagi. Entah apa itu tapi aku merasa telingaku panas. Sama seperti waktu itu. Pulang sekolah di hari selasa dan saat pelajaran terakhir (hari kamis terakhir). Panasnya mungkin lebih panas saat musik, namun, saat itu panasnya masih bisa terasa. Walau pun terik matahari pagi masih lebih panas dari kupingku. Ya, sudahlah. Aku tak terlalu mempedulikan hal itu. Pelajaran selanjutnya adalah pelajaran Olah Raga. Seperti minggu lalu, kami belajar berguling lagi. Sialnya, aku tidak bisa tenang saat itu. Suara itu terdengar kecil namun terdengar olehku dan membuatku tidak nyaman. Warung tidak boleh terbuka! Atau terlihat sesuatu yang tabu! (>,<)
Sesudah kami berguling-guling, aku dan beberapa teman lelaki bemain basket. Pelajaran selanjutnya, Mandarin, lagi. Pelajaran membosankan, menakutkan... Ya sudahlah, aku tidak mau membahas mandarin lagi. Lanjut saja ke sesi berikutnya. Istirahat. Dan Pkn. Lalu, musik. Nah, sekarang musik kembali memakan banyak korban. Namun aku jadi korban, lagi. Pertama? Ya. Tetap saja. Dengan dalih untuk contoh. Ya sudahlah. Biarlah. Yang penting aku mendapat nilai. Perjuangan itu di lalui, bukan aku sendiri tapi dengan teman-teman seperjuangan. Ya, dengan 13 orang lainnya. Jadi aku tidak manjadi korban lagi, tapi menjadi tentara. Kami menunjukan kebolehan kami menundukan not-not musik jazz. Hanya satu yang tidak mau mengikuti jejak kami, Brian. Dia akan menggantinya dengan menyanyikan 3 lagu pop. Apakah itu sebanding? Pop sudah banyak, bahkan melanglang buana ke mana-mana dengan liriknya yang lumayan sederhana itu. Sementara jazz, lagunya cukup sulit walaupun sudah banyak juga. Sebanyaknya jazz, pop lebih banyak. Jadi, apakah setara? Ya sudahlah.
Kembali, aku merasakan kuping yang memanas oleh karena sesuatu yang aku tak tahu. Kenapa bisa lagi? Sekarang waktunya sama seperti kamis kemarin, saat di ruang musik setelah bernyanyi. Aku ini seperti orang yang memiliki hutang banyak saja! Memangnya aku menanggung segala fiskal negara sampai aku tak bisa membayar dan kabur dari situ? Masalah kembali terjadi saat "Just the Two of Us" dan "Dia" dinyanyikannya. Memang kurang jernih suaranya, namun... Ah, khayalanku tak akan tersampaikan. Jantungku sepertinya diam saja. Aku jadi hanya bisa memandangi tembok saja. Sempat aku memanggil untuk meminta judul lagu - itu memang tugasku untuk cek ulang segala lagu yang dinyanyikan. Namun, kacang. Atau apa aku yang salah waktu bertanya? Sepertinya aku bertanya dan dia sedang ngobrol dengan Pak Andre. Ah. Gila. Aku memang seperti orang yang belum bayar fiskal! sudah tahu seberapa besar fiskal itu dan aku pasti tidak bisa membayarnya! Akh! Gila. Aku seperti patung, diam, dan tak bergeming. Hanya mampu pegangi bolpoint dengan sedikit getaran di tangan dan dadaku. Pusing kepalaku memikirkan dia. walaupun dia seperti apa yang selalu ku impikan, namun tetap saja tak bisa terucap, ta bisa tersampaikan.
Hah...
Dasar sifatku yang manja...
Sungguh aku memang gila...
Biarlah malam ini aku terlelap...
Dalam mimpi yang ternyenyak...
Bukan penghakiman dalam selimut...
Yang membuat aku terbelalak sambil menangis...
Menangis dalam hati...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar