Lagi. Kemarin dan sekarang telah berolak belakang. Keadaan yang membuat semangat di hari selasa terpatahkan di hari rabu ini. Awalnya sudah senang begitu rupa, namun setelah sekali lagi di konfrimasi, senang itu mendadak luntur. Cerahnya mentari langsung berganti guntur dan rintik hujan yang deras. Suara ceria anak kecil di padang rumput yang hijau tiba-tiba berubah menjadi isak tangis seorang anak yang melihat ibunya terbujur kaku di bawah pohon di tengah hutan pada malam yang dingin di sertai hujan yang membuat bisu sang anak. Mungkin terlalu berlebihan, namun aku tak berbohong. Aku merasa tertusuk. Tepat di jantungku. Tak bisa aku berkata-kata lagi. Tak sanggup aku mengeluarkan semangat yang tadi keluar begitu panas. Mungkin kronologis cerita di perlukan saat ini.
Selasa itu. sebuah ide yang muncul untuk mendirikan kembali "genk" teater SMA bernama "Teater Tanda Baca". Kelompok itu sebenarnya pertama kali terbentuk oleh karena eskul dan mulai menyatukan hati para anggota dan gurunya sehingga sang anggota ingin membangkitkan "Tanda Baca" supaya bisa kembali terbaca. Sebenarnya ide ini telah aku pikirkan dengan serius dari hari senin, namun aku mulai menanyakan tentang ada atau tidaknya eskul teater. Awalnya aku bertanya dan aku mendapat jawaban yang manyatakan bahwa satu eskul membutuhkan guru pembimbing, dan peserta lebih dari sepuluh siswa. Menurutku untuk mencari pesonil memang mudah. Tetapi, untuk mencari guru pendamping, itu mungkin sedikit sulit. Akhirnya aku mendapatkan Pak Teddy untuk menjadi guru pembimbing. Sungguh senang rasanya! Aku mendapatkan diriku bagai sedang menikmati nikmat dunia ini. Terasa bagaikan dunia ini surga. Hehe. Tawa memenuhi wajahku. Permintaan terakhir yang di ubat untuk mengadakan eskul ini adalah data ulang. Suatu data untuk di nyatakan keasliannya kepada kepala sekolah.
Malam hari di hari selasa. Sungguh sibuk. Mengerjakan tugas, mengumumkan kebangkitan teater dan banyak lagi. Sungguh senang sekali. Namun. Sesuatu terjadi di kemudian harinya. Baru saja aku pergi ke sekolah untuk mengetahui update-an terbaru dari Pak Ted, aku sudah melupakan tugas ku yang satu itu. Model sel hewan! Aduh, untung saja aku ingat, namun aku ingat saat sudah di depan gerbang sekolah. Aseem... Untung saja aku masih ada pulsa, jadi aku masih bisa menelpon bantuan. Kala menunggu pesanan, aku berpikir untuk bahan pembicaraan saat rapat untuk membentuk teater seusai sekolah. Kala berpikir, aku mendapati pak Teddy yang sedang berjalan menuju aku yang ada di dekat meja depan teras sekolah. Kupikir berita baik, ternyata berita buruk. Padahal aku sudah menyatakan bahwa sudah banyak yang mendukung teater ini dan pasti ada anak kelas X yang mau ikut! Peserta di pastikan lebih dari sepuluh! Aku sudah berapi-api menyatakan semua itu, namun pak Teddy menyanggah semua omonganku dengan info terbarunya. Teater tak bisa di adakan atau untuk lebih halusnya dibekukan dulu. A..apa?!!
Kemarin semua sudah berjalan lancar, na... namun... Apakah aku bermimpi? Kenapa bisa jadi begini?! Aku sudah susah payah mengumpulkan semua "tanda" untuk menyatukan dan membuatnya terbaca, namun... Itu hanya mimpi? Yang kami butuhkan sekarang ini hanya Ms. Ira! Hanya itu untuk bisa membangkitkan teater! Sekeras apapun aku berusaha, tetap saja tak bisa berbuat apa-apa. Dari pagi aku sudah lunglai. Kertas untuk mendata ulang "tanda-tanda" yang baru pun langsung aku sobek dengan wajah rata, namun dnegan hati yang bergejolak. Apa ini?! Kenapa harus begini? Mengapa harus begini?!!!
Tak puas aku berkomentar di sekolah, aku juga berkomtar di sini. Beribu macam alasan sudah di keluarkan, namun dinding batu itu belum terbelah. Aku masih belum bisa menemukan titik lemah dari dinding itu. Bagai tetesan air yang mencari celah untuk melewati dinding batu itu, aku pun berusaha dengan segenap kekuatanku. Walau pun dengan dukungan teman-teman, tapi...
Nihil...
Semua berakhir dengan nol...
Membuat aku jadi tak tahan lagi...
2 komentar:
maafkan :(
Kembalilah kalau begitu!
Posting Komentar